Moms dan Dads, banjir itu memang datangnya suka nggak pakai permisi. Baru saja air surut, badan masih capek bersih-bersih, rumah masih bau lumpur, eh muncul kekhawatiran baru: nyamuk. Yup, setelah banjir, risiko DBD justru sering meningkat. Banyak orang fokus ke kerusakan rumah dan perabot, tapi lupa kalau kondisi pasca banjir itu “surga kecil” buat nyamuk berkembang biak.
Genangan air sisa banjir, barang-barang basah yang dibiarkan, sampai saluran air yang tersumbat bisa berubah jadi tempat favorit nyamuk bertelur. Kalau Moms dan Dads lengah, beberapa hari kemudian nyamuk mulai bermunculan, dan risiko DBD pun ikut naik. Makanya, setelah banjir, bukan cuma rumah yang perlu dipulihkan, tapi juga kewaspadaan soal kesehatan keluarga.
Moms dan Dads, banyak yang mengira bahaya selesai begitu air banjir surut. Padahal kenyataannya, justru fase setelah banjir ini yang perlu perhatian tambahan. Air yang tersisa di ember, pot, galon bekas, atau lubang-lubang kecil sering nggak kelihatan tapi cukup buat nyamuk berkembang.
Masalahnya, kondisi pasca banjir bikin kita capek secara fisik dan mental. Fokusnya ke beberes rumah, nyuci, buang barang rusak, sampai ngurus listrik dan air. Di tengah kelelahan itu, detail kecil sering terlewat. Padahal nyamuk nggak butuh tempat yang besar, cukup genangan kecil yang jarang dicek.
Selain itu, lingkungan sekitar juga biasanya belum sepenuhnya pulih. Selokan penuh lumpur, halaman rumah masih basah, dan sampah menumpuk. Semua ini bikin nyamuk punya banyak pilihan tempat berkembang. Kalau satu rumah abai, efeknya bisa ke satu lingkungan.
Di sinilah pentingnya Moms dan Dads untuk sadar bahwa pasca banjir bukan waktunya lengah. Justru ini momen krusial untuk memutus siklus nyamuk sebelum jumlahnya makin banyak.
Membersihkan rumah setelah banjir memang melelahkan, Moms dan Dads. Tapi perlu diingat, bersih-bersih ini bukan cuma soal bikin rumah enak dipandang atau nggak bau. Ada misi kesehatan besar di baliknya.
Saat membersihkan rumah, perhatikan semua wadah yang bisa menampung air. Ember, baskom, tutup botol, sampai mainan anak yang terendam banjir sebaiknya dikosongkan dan dibersihkan. Jangan cuma ditumpuk atau dibiarkan di sudut rumah. Air sisa banjir yang tertinggal bisa jadi tempat nyamuk bertelur dalam waktu singkat.
Barang-barang bekas yang sudah rusak sebaiknya langsung dibuang atau didaur ulang. Menunda membuang barang sering bikin kita lupa, dan akhirnya jadi sarang nyamuk baru. Begitu juga dengan kain, karpet, atau alas kaki yang basah. Keringkan sampai benar-benar kering, jangan setengah-setengah.
Halaman rumah juga perlu perhatian. Lumpur yang mengendap di pot tanaman atau sela paving bisa menyimpan air. Membersihkan area luar rumah sama pentingnya dengan bagian dalam. Ingat, nyamuk nggak kenal batas ruang tamu atau halaman.
Moms dan Dads, pasca banjir biasanya aktivitas keluarga belum sepenuhnya normal. Anak-anak mungkin masih main di sekitar rumah, orang dewasa sibuk beberes, dan suasana agak semrawut. Di kondisi seperti ini, risiko gigitan nyamuk meningkat karena kita sering berada di luar atau pintu rumah lebih sering terbuka.
Perhatikan kondisi tubuh anggota keluarga. Kalau ada yang demam, lemas, atau mengeluh nggak enak badan beberapa hari setelah banjir, jangan langsung dianggap kecapekan biasa. Lebih baik waspada dan pantau dengan serius. Penanganan lebih awal selalu lebih baik daripada terlambat.
Selain itu, tetap jaga kebiasaan sehat. Pastikan keluarga cukup minum, makan teratur, dan istirahat meski kondisi rumah belum sepenuhnya rapi. Tubuh yang fit lebih siap menghadapi risiko penyakit, termasuk DBD.
Yang sering terlupakan, komunikasi antar anggota keluarga. Ajak semua ikut peduli. Anak-anak bisa diajak bantu hal kecil seperti mengingatkan kalau ada air tergenang. Kebiasaan ini bukan cuma mencegah DBD, tapi juga menanamkan kesadaran sejak dini.
Pada akhirnya, Moms dan Dads, kondisi setelah banjir memang berat, tapi bukan berarti kita menyerah pada risiko penyakit. Justru di masa inilah langkah pencegahan paling dibutuhkan. Penerapan 3M Plus secara konsisten jadi kunci utama dengan menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat wadah yang bisa menampung air, mendaur ulang atau membuang barang bekas yang berpotensi jadi sarang nyamuk, serta melakukan langkah tambahan untuk menghindari gigitan nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar.1
Sebagai perlindungan tambahan, Moms dan Dads juga sangat disarankan untuk berkonsultasi ke dokter terkait vaksinasi DBD. Dokter bisa membantu memberikan informasi yang sesuai dengan kondisi keluarga dan lingkungan pasca banjir. Dengan kombinasi kebiasaan 3M Plus dan perlindungan tambahan melalui vaksinasi yang dapat menjadi salah satu upaya untuk menurunkan dampak virus dengue 2, keluarga bisa lebih tenang menjalani masa pemulihan tanpa dihantui risiko DBD.
Artikel ini dimaksudkan untuk informasi dan kesadaran publik, dan untuk tujuan edukasi. Artikel gak dimaksudkan sebagai bentuk anjuran medis. Artikel ini telah disupervisi oleh:
dr. Carissa R.V Pratiwi
C-ANPROM/ID/QDE/1091 | Feb 2026
Referensi:
Takeda merupakan perusahaan biofarmasi global yang berfokus pada pasien, berbasis nilai, dan digerakkan oleh penelitian & pengembangan dengan komitmen untuk mewujudkan kesehatan lebih baik dan masa depan lebih cerah kepada masyarakat di seluruh dunia. Semangat dan upaya kami dalam pengobatan yang berpotensi mengubah kehidupan bagi pasien mengakar kuat selama lebih dari 230 tahun sejarah kami di Jepang.
© Copyright 2023 PT Takeda Innovative Medicines.
Takeda and the Takeda Logo are registered trademarks of PT Takeda Innovative Medicines. All rights reserved.
C-ANPROM/ID/QDE/0956 July 2025