Warna Baju Ternyata Memengaruhi Risiko Digigit Nyamuk DBD. Ini Penjelasannya!

Warna Baju Ternyata Memengaruhi Risiko Digigit Nyamuk DBD. Ini Penjelasannya!

Sumber foto: Unsplash/Galih Jelih 

Moms & Dads, pernah mendengar saran untuk memakai baju berwarna terang supaya tidak mudah digigit nyamuk? Atau sebaliknya, menghindari pakaian hitam karena katanya lebih "mengundang" nyamuk?

Ternyata, anggapan tersebut memang ada benarnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa warna pakaian dapat memengaruhi ketertarikan nyamuk Aedes aegypti. Namun, bukan berarti memilih warna baju tertentu sudah cukup untuk melindungi diri dari DBD, ya.

Yuk, cari tahu bagaimana sebenarnya nyamuk mencari targetnya!

 

Nyamuk Tidak Langsung Melihat Warna Baju

Tahukah Moms & Dads? Nyamuk ternyata tidak langsung tertarik pada warna pakaian. 

Saat kita bernapas, tubuh mengeluarkan karbon dioksida (CO₂). Gas inilah yang pertama kali dideteksi oleh nyamuk sebagai tanda bahwa ada manusia di sekitarnya.

Setelah mendeteksi karbon dioksida, barulah nyamuk mulai menggunakan penglihatannya untuk mencari target. Pada tahap inilah warna pakaian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ketertarikannya.

Warna baju bukan penyebab utama nyamuk datang, tetapi menjadi salah satu "petunjuk" yang membantu nyamuk menemukan kita.

 

Warna Apa yang Lebih Disukai Nyamuk?

Beberapa penelitian menemukan bahwa setelah mendeteksi karbon dioksida, nyamuk Aedes aegypti cenderung lebih tertarik pada warna-warna gelap atau warna yang menyerupai warna kulit manusia.1

Beberapa warna yang lebih menarik bagi nyamuk antara lain:

  • Hitam
  • Merah
  • Oranye
  • Merah tua atau marun

Sementara itu, warna-warna yang lebih terang seperti putih, hijau muda, biru muda, atau ungu cenderung kurang menarik bagi nyamuk.

 

Jadi, Pakai Baju Putih Sudah Cukup?

Jawabannya, belum tentu.

Warna pakaian hanyalah salah satu dari banyak faktor yang digunakan nyamuk untuk menemukan manusia. Nyamuk juga dapat mengenali:

  • Karbon dioksida dari napas kita.
  • Suhu tubuh.
  • Bau tubuh.
  • Keringat dan senyawa alami pada kulit.
  • Pergerakan tubuh.

Jadi, meskipun Moms & Dads mengenakan pakaian berwarna terang, nyamuk tetap dapat mendekat jika faktor-faktor lain menarik perhatian mereka.2

Karena itu, jangan sampai merasa sudah aman hanya karena mengganti warna pakaian.

 

Yang Lebih Penting adalah Mengurangi Risiko Gigitan Nyamuk

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi risiko gigitan nyamuk. Seperti:

✓ Menggunakan pakaian yang nyaman dan bila perlu menutupi tubuh dengan baik.

✓ Menggunakan losion antinyamuk sesuai petunjuk penggunaan.

✓ Menghindari area yang banyak nyamuk bila memungkinkan.

Langkah-langkah ini dapat menjadi perlindungan tambahan, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

 

Jangan Lupakan Pencegahan yang Paling Penting

Meski warna pakaian dapat memengaruhi ketertarikan nyamuk, mengganti warna baju saja tidak akan menghentikan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Upaya yang paling penting tetap dimulai dari mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk melalui gerakan 3M Plus,3 yaitu:

  • Menguras tempat penampungan air secara rutin.
  • Menutup rapat wadah penyimpanan air.
  • Mendaur ulang atau membuang barang bekas yang dapat menampung air hujan.
  • Plus, rutin memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Dengan mengurangi jumlah nyamuk di lingkungan, risiko gigitan pun dapat ikut berkurang.

 

Lindungi Keluarga dengan Berbagai Upaya

Selain rutin menjalankan 3M Plus dan menjaga kebersihan lingkungan, Moms & Dads juga dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai vaksin DBD sebagai perlindungan tambahan.

Jadi, kalau besok si Kecil ingin memakai baju hitam saat bermain, tidak perlu langsung panik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan lingkungan tetap bebas dari tempat berkembang biaknya nyamuk dan keluarga terlindungi dengan berbagai langkah pencegahan. Karena melindungi keluarga dari DBD membutuhkan lebih dari sekadar memilih warna pakaian.

C-ANPROM/ID/QDE/1291 | SEP 2026

References

  1. Alonso San Alberto, D., Rusch, C., Zhan, Y., Straw, A. D., Montell, C., & Riffell, J. A. (2022). The olfactory gating of visual preferences to human skin and visible spectra in mosquitoes. Nature Communications, 1. https://doi.org/10.1038/s41467-022-28195-x 
  2. Chandel, A., DeBeaubien, N. A., Ganguly, A., Meyerhof, G. T., Krumholz, A. A., Liu, J., Salgado, V. L., & Montell, C. (2024). Thermal infrared directs host-seeking behaviour in Aedes aegypti mosquitoes. Nature, 8030, 615–623. https://doi.org/10.1038/s41586-024-07848-5
  3. Direktorat Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas. (2023). Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M Plus. Ayo Sehat - Kementerian Kesehatan RI. https://ayosehat.kemkes.go.id/pemberantasan-sarang-nyamuk-dengan-3m-plus
Category
takeda

Takeda merupakan perusahaan biofarmasi global yang berfokus pada pasien, berbasis nilai, dan digerakkan oleh penelitian & pengembangan dengan komitmen untuk mewujudkan kesehatan lebih baik dan masa depan lebih cerah kepada masyarakat di seluruh dunia. Semangat dan upaya kami dalam pengobatan yang berpotensi mengubah kehidupan bagi pasien mengakar kuat selama lebih dari 230 tahun sejarah kami di Jepang.

© Copyright 2023 PT Takeda Innovative Medicines.

Takeda and the Takeda Logo are registered trademarks of PT Takeda Innovative Medicines. All rights reserved.

C-ANPROM/ID/QDE/0956 July 2025